AKTURASI.ID,SUMENEP – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengkaji pembangunan sumur bor sebagai salah satu opsi penanganan jangka panjang untuk mengatasi kekeringan yang berulang di Kabupaten Sumenep. Jika memenuhi kelayakan teknis, fasilitas tersebut diupayakan tersedia pada awal 2027, sebelum musim kemarau kembali berlangsung.
Rencana itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Dusun Marang, Desa Larangan Barma, Kecamatan Batuputih, Rabu (14/10/2026).
Khofifah mengatakan, pembangunan sumur bor perlu didahului identifikasi kondisi wilayah untuk memastikan sumber air dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kita identifikasi, kalau ada opsi sumur bor akan kita upayakan. Kalau memang memungkinkan, kita sediakan di tahun 2027 awal, sebelum musim kemarau tahun depan kami upayakan,” tambahnya.
Pemprov Jatim akan berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, untuk memetakan wilayah terdampak serta menilai kemungkinan pembangunan fasilitas tersebut.
Upaya ini menjadi bagian dari penanganan kekeringan yang membutuhkan langkah berkelanjutan. Sebab, distribusi air bersih melalui truk tangki selama ini menjadi salah satu bentuk bantuan untuk memenuhi kebutuhan warga ketika sumber air mulai terbatas saat musim kemarau.
Berdasarkan data yang disampaikan, kekeringan di Kabupaten Sumenep berdampak pada 70 desa dengan total 271.017 jiwa. Di Dusun Marang, Kecamatan Batuputih, sedikitnya 595 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Khofifah menyebut Sumenep sebagai salah satu dari 25 kabupaten di Jawa Timur yang telah menetapkan status darurat kekeringan. Karena itu, bantuan air bersih disalurkan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, memasak, hingga sanitasi.
“Kabupaten Sumenep ini jadi salah satu dari 25 Kabupaten yang mengeluarkan status darurat kekeringan. Hari ini di Desa Marang kita dropping air bersih, ada dua truk tangki dan 13 tandon unit tandon air,” ujarnya.
Untuk mendukung penanganan kekeringan di Sumenep, Pemprov Jatim mengalokasikan bantuan sebesar Rp130 juta. Bantuan tersebut mencakup 540 jeriken berkapasitas 15 liter, 90 tandon air berkapasitas 1.200 liter, serta 200 lembar terpal.
Sementara itu, bantuan yang disalurkan khusus kepada warga Dusun Marang terdiri atas dua truk tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter, tiga tandon air, dua tandon lipat, dan 150 jeriken untuk penyimpanan air di rumah tangga.
Bagi masyarakat setempat, bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan air bersih di tengah keterbatasan sumber air. Namun, warga berharap penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan distribusi air setiap musim kemarau.
Salah seorang warga Dusun Marang, Sudi, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterima. Ia mengatakan, persoalan kekurangan air bersih terus berulang setiap kali musim kemarau tiba.
“Alhamdulillah, sangat senang mendapat bantuan air bersih ini. Setiap tahun saat musim kemarau, kami pasti kekurangan air bersih. Kami berharap banyak kepada Ibu Gubernur agar ada solusi supaya warga tidak terus mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau,” ungkapnya.
Sudi berharap rencana pembangunan sumur bor dapat segera ditindaklanjuti agar warga memiliki akses terhadap sumber air yang lebih mudah dijangkau dan tidak terus bergantung pada bantuan tangki air.
“Semoga segera ada pengeboran karena tiap tahun saat musim kemarau pasti disini kekurangan air bersih. Kami berharap banyak pada Ibu Gubernur,” tutupnya.(*)