Peralihan Pengguna Pertamax ke Pertalite Picu Antrean Panjang di SPBU Sumenep

Salah satu SPBU di Sumenep yang sedang antrean. (Foto:akturasi.id)

AKTURASI.ID, SUMENEP – Antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep belakangan ini ternyata dipicu oleh meningkatnya jumlah pengguna BBM bersubsidi.

Kondisi tersebut terjadi setelah banyak pengguna Pertamax beralih ke Pertalite menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memastikan fenomena tersebut bukan disebabkan oleh berkurangnya kuota BBM yang diterima daerah. Sebaliknya, lonjakan konsumsi terjadi karena perubahan pola penggunaan bahan bakar di masyarakat.

Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setdakab Sumenep Dadang Dedy Iskandar menjelaskan, bahwa alokasi BBM bersubsidi maupun nonsubsidi untuk Kabupaten Sumenep masih sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

Menurutnya, kuota BBM pada Juni memang lebih rendah dibandingkan Mei. Namun kondisi itu bukan karena adanya pengurangan, melainkan karena pada Mei terdapat tambahan kebutuhan yang berkaitan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Yang pertama harus digarisbawahi, tidak ada pengurangan kuota, baik BBM bersubsidi maupun BBM nonsubsidi,” katanya.

Selain perbedaan alokasi bulanan, tingginya mobilitas masyarakat pada sejumlah momentum tertentu juga membuat stok BBM di SPBU lebih cepat terserap. Namun faktor yang paling berpengaruh saat ini adalah meningkatnya jumlah pengguna BBM subsidi akibat selisih harga yang cukup jauh dengan BBM nonsubsidi.

Dadang menuturkan, kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat sebagian masyarakat memilih beralih ke Pertalite dan Biosolar untuk menekan biaya operasional kendaraan. Perubahan tersebut terjadi tidak hanya pada kendaraan pribadi, tetapi juga kendaraan niaga.

Ia menyebut kondisi tersebut membuat distribusi BBM bersubsidi di sejumlah SPBU lebih cepat terserap dibandingkan perhitungan normal. Akibatnya, masyarakat kerap menemukan antrean panjang saat melakukan pengisian bahan bakar.

Meski demikian, Pemkab Sumenep memastikan stok BBM secara umum masih tersedia dan distribusi tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan bersama Pertamina.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan konsumsi BBM di lapangan guna mengantisipasi terjadinya gangguan distribusi yang lebih luas.

“Karena adanya kenaikan harga, masyarakat yang biasanya menggunakan Pertamax akhirnya beralih kepada BBM subsidi. Makanya BBM subsidi menjadi lebih cepat habis,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like