AKTURASI.ID, SUMENEP – Madura Culture Festival (MCF) 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, tetapi memperlihatkan beragam wajah budaya Jawa Timur dalam satu ruang.
Diketahui, dalam gelaran tersebut, sebanyak 13 kabupaten/kota tampil membawa karya seni khas daerah masing-masing, mulai dari Madura, Tapal Kuda, hingga wilayah lain di Jawa Timur. Hal itu, turut menjadi salah satu daya tarik MCF yang digelar di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep.
Kabupaten Sumenep tampil dengan Tari Sonar Mosem Nemor, disusul Tuban dengan Tari Mustikaning Kenya, Kota Probolinggo melalui Tari Nyareh Jukok, Bondowoso dengan Wirogo Singo Konah, Kota Blitar lewat Tari Pleret, Kabupaten Malang dengan Tari Sekar Tunjung Biru, serta Pasuruan membawa Tari Gelora Pesisir.
Pada rangkaian berikutnya, Nganjuk menampilkan Tari Anjuk Ladang Tumadang, Banyuwangi dengan Tari Majestik, Situbondo membawakan Tari Bheko Tambeng. Sementara dari Madura, Bangkalan tampil dengan Tari Arojung Paseseran, Sampang membawa Tari Kerabhen Sape, dan Pamekasan mempersembahkan Tari Sandoreng. Perbedaan karakter pertunjukan itu menjadi gambaran bahwa setiap daerah memiliki kekayaan budaya dengan cerita dan identitasnya sendiri.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, keberagaman yang terlihat dalam MCF menunjukkan besarnya potensi seni budaya Jawa Timur yang perlu terus dirawat. Menurutnya, budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas daerah yang harus tetap dikenalkan kepada generasi sekarang.
“Jawa Timur kaya dengan seni dan budaya yang merupakan bagian penting dari identitas setiap daerah,” kata Achmad Fauzi saat ditemui usai rangkaian MCF, Sabtu (29/08/2026) malam.
Menurut Achmad Fauzi, pertemuan berbagai daerah dalam satu festival juga membuka ruang kolaborasi sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap kesenian lokal. Ia menilai, festival seperti MCF dapat menjadi jembatan agar generasi muda lebih dekat dengan budaya daerah, terlebih di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
“Setiap seni dan budaya memiliki karakteristik serta cerita yang mencerminkan kehidupan dan kearifan lokal masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan kesenian dalam bentuk yang sama tanpa perkembangan. Kreativitas dan inovasi tetap diperlukan agar budaya mampu mengikuti zaman, namun tetap berpijak pada nilai tradisi yang menjadi identitasnya.
Bupati berharap MCF terus menjadi ruang bersama untuk memperkuat kolaborasi antardaerah sekaligus membawa kekayaan seni budaya Jawa Timur semakin dikenal luas.
“Budaya harus tetap hidup dan berkembang meskipun dengan inovasi mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” tukasnya. (*)