AKTURASI.ID, SUMENEP – Informasi mengenai pembangunan daerah tak selalu harus disampaikan dalam format yang formal dan kaku. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep memilih cara berbeda dengan mengemas informasi pembangunan melalui stand bernuansa Keraton Sumenep dalam Festival Madura Culture di GOR A Yani, Kamis (27/08/2026).
Nuansa budaya lokal terlihat dari konsep stand yang memadukan ornamen Keraton Sumenep dengan berbagai informasi mengenai perencanaan pembangunan. Pengunjung tidak hanya disuguhi tampilan budaya, tetapi juga dapat mengenal program, capaian hingga inovasi yang menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Sumenep.
Berbagai materi dikemas dalam bentuk infografis sehingga lebih mudah dipahami. Mulai dari visi dan misi daerah, delapan program unggulan Sumenep 2025–2029, capaian indikator pembangunan, tahapan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), hingga sejumlah inovasi daerah.
Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto mengatakan, konsep tersebut sekaligus menjadi upaya mendekatkan informasi pembangunan kepada masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui bukan hanya hasil pembangunan, tetapi juga arah dan proses yang melatarbelakanginya.
“Masyarakat perlu mengetahui arah pembangunan sekaligus memahami bahwa setiap program pemerintah memiliki proses perencanaan dan tahapan yang harus dilalui,” ujarnya.
Delapan program unggulan Kabupaten Sumenep periode 2025–2029 menjadi salah satu informasi yang mendapat ruang utama dalam stand tersebut. Program itu mencakup sektor pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sekolah, guru ngaji dan guru madrasah dengan dukungan beasiswa.
Di bidang kesehatan, pemerintah daerah mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di puskesmas serta pelayanan kesehatan lanjutan di rumah sakit berstandar. Sementara sektor ekonomi diarahkan pada pengembangan kewirausahaan santri dan pemuda, pengembangan ekonomi kawasan serta penguatan ekonomi berbasis desa.
Arah pembangunan infrastruktur juga menjadi bagian dari program unggulan, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan keseimbangan pembangunan antara wilayah daratan dan kepulauan. Termasuk penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, penanganan persoalan sosial melalui semangat gotong royong serta peningkatan infrastruktur dan transportasi menuju wilayah kepulauan.
Tak berhenti pada daftar program, Bappeda turut memperlihatkan bagaimana proses perencanaan pembangunan dilakukan. Alur penyusunan RKPD ditampilkan mulai dari persiapan rancangan awal, forum perangkat daerah, Musrenbang RKPD Kabupaten, perumusan rancangan akhir hingga penetapan RKPD.
Sejumlah inovasi daerah juga diperkenalkan kepada pengunjung. Di antaranya aplikasi e-Stunting yang mendukung pengelolaan informasi dan penyusunan intervensi stunting berbasis data, E-SAKIP untuk mendukung sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, serta Peti Koin Bermantara yang diarahkan untuk mendorong ekonomi produktif masyarakat.
Program Peti Koin Bermantara tersebut mencakup sejumlah sektor, seperti pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, hingga perindustrian dan perdagangan.
Untuk menunjukkan perkembangan pembangunan secara lebih terukur, Bappeda juga menyajikan sejumlah indikator daerah. Data tingkat pengangguran terbuka, persentase penduduk miskin, pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta Indeks Gini ditampilkan sebagai bagian dari informasi yang dapat menjadi bahan evaluasi pembangunan.
Stand Bappeda turut dikunjungi Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Didampingi Kepala Bappeda Arif Firmanto dan jajaran, Bupati melihat berbagai informasi yang ditampilkan terkait program, capaian serta inovasi pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mencoba fasilitas video booth yang disediakan gratis bagi pengunjung. Fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk interaksi yang ditawarkan Bappeda agar masyarakat dapat menikmati suasana festival sekaligus mengenal informasi pembangunan daerah.
Perpaduan antara ornamen Keraton Sumenep dan informasi pembangunan menjadi pesan tersendiri dalam kehadiran Bappeda di Festival Madura Culture. Identitas budaya lokal tetap dipertahankan, sementara informasi mengenai arah pembangunan dikemas dengan pendekatan yang lebih komunikatif.
Seperti diketahui, Madura Night Vaganza (MNV) 2026 sendiri berlangsung 26 Agustus hingga 4 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Madura Culture Fest (MCF) #4. Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas, pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat.(*)