Hari Bidan Nasional 2026, Dinkes Sumenep Dorong Bidan Perkuat Peran Edukasi Kesehatan Masyarakat

Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah. (Foto: Ist)

AKTURASI.ID,SUMENEP – Peringatan Hari Bidan Nasional 2026 dimanfaatkan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep untuk memperkuat peran bidan sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di tengah masyarakat.

Mengusung tema “Bidan Kuat, Perempuan Sehat, Indonesia Hebat”, Dinkes P2KB menilai keberadaan bidan tidak hanya berfokus pada pelayanan medis, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola hidup sehat sejak dini.

Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, mengatakan bidan merupakan tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, mereka memiliki posisi strategis dalam menyampaikan edukasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, remaja, hingga keluarga.

“Bidan merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan di masyarakat. Karena itu, peran promotif dan preventif harus terus diperkuat, mulai dari edukasi keluarga berencana, pemberian ASI eksklusif, pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, hingga kesehatan reproduksi remaja,” ujarnya, Rabu (24/06/2026).

Menurut Ellya, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Upaya menekan angka stunting, meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, serta menciptakan generasi yang sehat tidak cukup hanya mengandalkan layanan kuratif, tetapi juga memerlukan edukasi yang berkesinambungan.

Selain memperkuat peran edukatif, ia juga mengingatkan pentingnya peningkatan kompetensi tenaga bidan di tengah perkembangan teknologi informasi. Bidan dituntut terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar mampu memberikan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Terus tingkatkan kapasitas diri dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di era digital, bidan harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan ibu dan anak,” katanya.

Ellya juga menegaskan bahwa keberhasilan berbagai program kesehatan tidak bisa dicapai secara individual. Sinergi antara bidan, dokter, perawat, kader kesehatan, hingga lintas sektor menjadi faktor penting dalam menurunkan angka stunting maupun angka kematian ibu.

“Penurunan angka stunting dan kematian ibu memerlukan kerja sama yang kuat. Kolaborasi seluruh tenaga kesehatan harus terus diperkuat agar hasilnya semakin optimal,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan harus selalu mengedepankan sisi kemanusiaan. Menurutnya, empati seorang bidan sering kali menjadi kekuatan tersendiri bagi ibu hamil maupun keluarga yang sedang menghadapi persoalan kesehatan.

“Setiap pasien adalah individu yang membutuhkan perhatian. Kepedulian dan empati dari seorang bidan kerap menjadi dukungan pertama yang memberikan rasa tenang bagi ibu hamil dan keluarganya,” ungkap Ellya.

Pada momentum Hari Bidan Nasional tersebut, Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep turut memberikan apresiasi kepada seluruh bidan yang selama ini konsisten memberikan pelayanan hingga ke wilayah pelosok. Dedikasi mereka dinilai berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan perempuan dan anak sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Menutup pesannya, Ellya mengajak seluruh bidan untuk tetap menjaga kesehatan fisik maupun mental di tengah tingginya tuntutan profesi.

“Menjadi bidan adalah profesi yang sangat mulia sekaligus penuh tantangan. Karena itu, jangan abaikan kesehatan diri sendiri, kelola stres dengan baik, dan terus saling mendukung agar mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like